Rabu, 13 Agustus 2025

Langkah yang Tak Pernah Mundur

 Judul: “Langkah yang Tak Pernah Mundur”

  Karya Anggia

Pagi itu, Rahmah duduk di meja makan yang penuh dengan berkas tagihan. Tangan kanannya memegang pulpen, mencatat pengeluaran bulan ini di buku catatan lusuh yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Di sebelahnya, segelas teh hangat mulai kehilangan uapnya.


Suaminya, Hadi, baru saja selesai sarapan dan hendak berangkat kerja.

"Mah, jangan lupa bayar listrik hari ini, ya," katanya sambil mengancingkan kemeja.


Rahmah tersenyum tipis. "Iya, Bang. Aku sudah sisihkan uangnya."


Hadi menatap catatan Rahmah sebentar. "Uang kuliah Arif masuk bulan ini, kan?"


Rahmah mengangguk. "Iya. Semester enam. Uang kuliah, buku, sama kosnya."


"Kalau kurang, kasih tahu aku. Tapi ya, kamu tahu sendiri kondisi keuangan kita."


"Aku tahu, Bang," jawab Rahmah lirih. "Tapi Arif harus selesai kuliah. Aku nggak mau dia berhenti di tengah jalan."


Hadi menghela napas. "Aku bangga sama kamu, Mah. Tapi jangan lupa, kita juga punya anak yang butuh biaya."


Rahmah mengangguk, walau hatinya berat. Ia memang sudah bertekad sejak awal: Arif, adik bungsunya, harus kuliah sampai selesai. Sebagai anak pertama, ia merasa itu tanggung jawabnya, apalagi sejak ayah dan ibunya pensiun dari kebun karet dan penghasilan mereka nyaris tak ada.



---

Arif adalah adik bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya, Fitri, sudah menikah dan tinggal di kota lain. Rahmah sendiri menikah muda dan memiliki seorang anak perempuan berusia 5 tahun.


Sejak Arif lulus SMA dengan nilai bagus, Rahmah langsung mengatakan,

"Arif harus kuliah. Kak Rahmah sama Bang Hadi akan bantu biayanya."


Waktu itu Arif sempat menolak. "Tapi, Kak... biaya kuliah mahal. Mending uangnya buat anak Kakak saja."


"Tidak. Kamu harus kuliah. Itu investasi buat masa depan keluarga kita," jawab Rahmah tegas.


Dari situ, Rahmah mulai mengatur keuangan lebih ketat. Gajinya dari pekerjaan sebagai admin toko bahan bangunan sebagian besar masuk untuk biaya kuliah Arif. Hadi juga membantu sebisanya dari gaji sebagai sopir travel.



---


Semester enam berjalan. Arif semakin sibuk dengan penelitian dan persiapan skripsi. Suatu siang di bulan Maret, Rahmah menerima telepon dari Fitri. Suaranya terdengar panik.


"Mah, Ayah masuk rumah sakit. Ibu juga ikut sakit, mungkin karena kecapekan ngerawat Ayah."


Rahmah terkejut. "Apa? Sejak kapan?"


"Tadi pagi. Ayah nggak bisa bangun dari tempat tidur. Ibu pusing berat. Sekarang mereka dirawat di RSUD."


Rahmah langsung mengambil jaket. "Aku ke sana sekarang."


Setibanya di rumah sakit, ia melihat Ayah terbaring lemah dengan infus di tangan. Ibu duduk di kursi pasien, wajah pucat dan mata sayu.


"Ya Allah, Ayah... Ibu..." Rahmah memeluk keduanya, air matanya tak terbendung.


Dokter menjelaskan bahwa Ayah terkena komplikasi penyakit ginjal dan darah tinggi, sementara Ibu mengalami kelelahan dan tekanan darah rendah. Keduanya butuh rawat inap beberapa hari, bahkan mungkin berminggu-minggu.


Rahmah langsung berpikir tentang biaya. BPJS memang menanggung sebagian, tapi obat tambahan, makanan, dan kebutuhan lain harus dibayar sendiri. Belum lagi biaya kuliah Arif yang jatuh tempo.



---


Malam itu, Rahmah, Fitri, dan Arif duduk di bangku panjang depan rumah sakit. Lampu jalan temaram, udara malam dingin menusuk.


"Jadi gimana, Mah?" tanya Fitri. "Aku cuma bisa bantu sedikit. Suamiku baru kehilangan pekerjaan."


Rahmah menarik napas panjang. "Aku punya tabungan darurat, tapi nggak banyak. Cuma cukup buat bayar uang muka rumah sakit sama sebagian obat."


Arif menunduk. "Kak... kalau uang kuliahku jadi masalah, aku bisa cuti kuliah dulu. Yang penting Ayah sama Ibu sembuh."


"Tidak!" Rahmah langsung menatap adiknya. "Kamu sudah hampir selesai. Cuma tinggal satu tahun lagi. Kakak nggak mau kamu berhenti."


"Tapi Kak—"


Rahmah memotong, "Kita cari jalan. Kita bertiga harus kompak."


Fitri mengangguk. "Aku bisa jual perhiasan kawin. Nggak banyak sih, tapi lumayan buat tambahan."


Arif menghela napas. "Aku juga bisa kerja paruh waktu di kafe. Malamnya, setelah kuliah."


Rahmah menatap keduanya. "Kalau begitu, kita mulai besok. Jangan ada yang nyerah."



---


Hari-hari berikutnya, Rahmah mulai bekerja lembur di toko bahan bangunan. Ia juga membuat kue basah untuk dijual di sekolah-sekolah dan warung. Setiap pukul 3 subuh, ia sudah di dapur menggoreng risol dan membuat kue lapis.


Fitri menggadaikan cincin kawin dan beberapa perhiasan kecil. Hasilnya langsung diberikan untuk membayar obat tambahan Ayah.


Sementara itu, Arif bekerja sebagai barista di sebuah kafe kecil. Pulang kuliah sore, ia langsung berangkat kerja sampai jam 11 malam.


Suatu malam, Hadi melihat istrinya duduk di meja makan dengan mata sembab.

"Kenapa, Mah?" tanyanya.


Rahmah tersenyum lemah. "Cuma capek, Bang. Banyak pesanan kue besok."


Hadi memegang tangannya. "Kamu luar biasa. Tapi jangan sampai sakit. Kita bisa lewati ini bersama."


Rahmah mengangguk, meski di hatinya ia tahu tubuhnya sudah mulai lelah.



---


Dua minggu kemudian, Ayah harus menjalani cuci darah. Biaya makin membengkak. Tabungan Rahmah hampir habis.


Suatu malam, Rahmah dan Arif duduk di kursi tunggu rumah sakit. Arif terlihat lesu.

"Kak, aku kayaknya nggak kuat kalau begini terus. Kuliah, kerja, jagain Ayah Ibu... aku takut drop."


Rahmah menatapnya. "Aku juga capek, Rif. Tapi coba lihat Ayah dan Ibu di dalam sana. Mereka sudah kerja keras membesarkan kita. Masa kita nyerah sekarang?"


Arif terdiam. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. "Baiklah, Kak. Aku bertahan."



---


Beberapa hari kemudian, Rahmah mendapat kabar dari bosnya di toko bahan bangunan.

"Mah, aku dengar orang tuamu sakit. Ini ada uang bonus. Nggak seberapa, tapi semoga membantu."


Rahmah terharu. "Terima kasih, Pak. Saya akan ingat kebaikan Bapak."


Di sisi lain, Arif mendapatkan beasiswa dari kampus karena prestasinya. Uang itu bisa menutupi biaya kuliah satu semester penuh.


"Alhamdulillah," kata Rahmah sambil memeluk adiknya. "Ini pertolongan dari Allah."



---


Setelah hampir dua bulan dirawat, Ayah dan Ibu akhirnya boleh pulang. Kondisi mereka membaik, meski harus rutin kontrol dan minum obat.


Rahmah, Fitri, dan Arif duduk di ruang tengah rumah.

"Terima kasih, Nak," kata Ayah. "Kalian sudah berjuang keras. Ayah bangga punya anak-anak seperti kalian."


Rahmah tersenyum sambil menatap kedua adiknya. "Kita saling jaga. Itu saja kuncinya."


Arif akhirnya lulus kuliah setahun kemudian dengan predikat cum laude. Saat wisuda, ia memberikan map ijazahnya pada Rahmah.

"Ini, Kak. Hasil kerja keras kita semua. Terima kasih sudah percaya sama aku."


Rahmah menatap adiknya sambil menahan tangis. "Bukan cuma aku yang percaya. Tapi Ayah, Ibu, dan Allah juga percaya kamu bisa."


Janji di Ujung Musim

 Judul: “Janji di Ujung Musim”

Karya Anggia


Pagi itu udara di desa masih diselimuti kabut tipis. Anita, siswi kelas 12 IPA SMA Negeri di kecamatan sebelah, mengayuh sepedanya melewati jalan tanah yang licin karena hujan semalam. Tasnya digendong, dan di dalamnya ada buku-buku tebal: Biologi, Fisika, Kimia—teman setianya sejak kelas 10.


Ia selalu peringkat satu. Semua guru mengenalnya sebagai anak pintar, rajin, dan sopan. Tapi tak banyak yang tahu bahwa di balik prestasinya, Anita menyimpan beban yang berat.


Di rumah, ayahnya—Badrun—sedang terbaring di kursi panjang. Rokok terselip di jarinya, mata sayu, tubuh kurus, dan batuknya sesekali terdengar. Ia sakit-sakitan, tapi bukan karena tak mampu bekerja saja; ia juga pemalas, pemabuk, penjudi, dan sudah lama terjerat narkoba.


Ibunya, Sulastri, sudah berangkat ke kebun karet sejak subuh. Menggendong ember getah, menyusuri batang-batang karet sendirian.


Ketika Anita pulang sekolah sore itu, ibunya baru saja tiba dari kebun. Tubuhnya penuh peluh, tangannya kotor oleh bekas getah.


"Assalamualaikum," sapa Anita sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam," jawab ibunya lemah. "Sudah makan, Nak?"


"Belum, Bu. Nanti sekalian makan sama Ibu." Anita melihat ke arah ayahnya yang hanya melirik sekilas, lalu kembali memejamkan mata. Bau alkohol samar tercium di ruangan.


"Ibu... Ayah lagi minum?" bisik Anita.


Sulastri menghela napas panjang. "Entahlah. Ibu sudah capek ngomel tiap hari. Kamu fokus belajar saja, ujian sebentar lagi."


Anita menunduk. "Bu, kalau Ibu capek, jangan dipendam sendiri. Anita bisa bantu nyadap karet kalau perlu."


"Tidak usah, Nak. Ibu tidak mau masa sekolahmu terganggu."


Badrun tiba-tiba membuka mata. "Kamu ini, Latri, ngomong apa sih ke anak? Jangan ngajak dia nyalahin Bapak."


Sulastri menatap tajam. "Saya nggak ngajak nyalahin. Cuma ngomong fakta. Kamu ini kerjaan cuma tidur, minum, main judi, nyabu. Mau sampai kapan?"


"Hei, jangan sembarangan ngomong!" Badrun bangkit, suaranya meninggi. "Aku sakit, Latri. Badan ini nggak kuat kerja berat."


"Sakit? Sakitnya karena ulah kamu sendiri! Uang habis buat judi, mabuk, narkoba. Karet kita cuma tinggal sedikit, itu pun aku yang nyadap!"


Anita berdiri di tengah, mencoba menenangkan. "Sudah... sudah, Bu, Pak. Tolong jangan ribut di depan Anita."


Tapi di hatinya, Anita mulai merasa takut. Ujian nasional sudah dekat, dan rumahnya seperti bom waktu yang siap meledak.



---


Beberapa minggu kemudian, suasana rumah makin panas. Suatu malam, Anita terbangun karena mendengar suara piring pecah. Ia keluar kamar, dan melihat ibunya berdiri dengan mata merah, sementara ayahnya terduduk di lantai.


"Aku nggak sanggup lagi, Bad. Besok aku mau urus cerai," suara ibunya bergetar, tapi tegas.


Badrun terdiam sejenak, lalu mencoba berdiri. "Latri, jangan. Jangan cerai. Aku janji... aku akan berubah."


"Janji? Janji yang ke berapa kali? Sudah berapa tahun aku dengar janji itu, Bad? Setiap kali kamu bilang mau berubah, ujung-ujungnya sama. Aku yang kerja sendirian, kamu habiskan uang."


Badrun terisak—entah karena benar-benar menyesal atau hanya takut kehilangan tempat tinggal. "Kali ini serius, Latri. Aku... aku nggak mau anak kita malu. Aku mau Anita lulus, kuliah, sukses."


Anita berdiri di sudut ruangan, menatap keduanya. Suara tangisnya akhirnya pecah. "Ibu, Ayah... tolong... jangan pisah sekarang. Tunggu Anita selesai ujian. Kalau nanti Ibu mau cerai, terserah, tapi sekarang... tolong."


Sulastri memejamkan mata, menarik napas dalam. "Baiklah. Aku tahan sampai anak kita lulus. Tapi kalau kamu ingkar lagi, Bad, aku nggak peduli."


Badrun mengangguk cepat, seperti orang yang baru saja mendapat napas tambahan.



---

Sejak malam itu, Badrun sedikit berubah. Ia mulai ikut ke kebun, meski sebentar saja. Paling tidak, ia tak lagi mabuk setiap hari. Anita berusaha memusatkan pikiran pada ujian nasional.


Di sekolah, ia duduk di bangku paling depan, menyimak setiap penjelasan guru. Teman-temannya sering memuji, bahkan iri karena nilainya selalu di atas.


"Anita, nanti lulus mau kuliah di mana?" tanya Rani, sahabatnya.


"Aku mau daftar ke universitas negeri di kota. Jurusan Biologi," jawab Anita mantap.


"Hebat. Semoga keterima, ya."


"Amin."


Namun di balik senyum itu, Anita tetap dihantui kecemasan: apakah keluarganya bisa tetap utuh sampai hari pengumuman kelulusan?



---

Hari itu SMA ramai. Semua siswa berkumpul di lapangan, menunggu hasil kelulusan. Wali kelas membagikan amplop.


Anita membuka amplopnya dengan tangan bergetar. Nilai sempurna. Ia dinyatakan lulus dengan peringkat pertama se-kabupaten.


Ibunya memeluknya erat. "Ibu bangga sekali sama kamu, Nak."


Badrun ikut tersenyum, meski wajahnya pucat. "Bapak janji, Nak, mulai sekarang Bapak bener-bener berubah."


Anita hanya mengangguk. Di hatinya, ia ingin percaya, tapi pengalaman mengajarkannya untuk tidak terlalu berharap.



---


Dengan nilai gemilang, Anita mendapat beasiswa kuliah di universitas negeri. Ia pindah ke kota, tinggal di kos sederhana.


Hari-harinya diisi kuliah, praktikum, dan belajar di perpustakaan. Sesekali, ia pulang ke desa.


Suatu kali, ia pulang dan mendapati ayahnya duduk di teras, tampak lebih sehat. "Nak, Bapak sekarang sudah ikut pengajian tiap minggu," katanya.


"Bagus, Pak," Anita tersenyum tipis.


Namun ibunya kemudian berbisik di dapur, "Jangan terlalu percaya. Kadang-kadang dia masih keluyuran malam."


Anita hanya bisa menghela napas. Perubahan memang tidak bisa instan.



---


Empat tahun kemudian, Anita lulus kuliah dengan predikat cum laude. Ia langsung mendaftar seleksi ASN.


Badrun dan Sulastri hadir di wisudanya. Ayahnya bahkan menangis di bangku tamu. "Nak, Bapak bangga sekali. Maafkan Bapak yang dulu-dulu," ucapnya setelah acara selesai.


Anita tersenyum. "Yang penting sekarang Bapak mau berubah. Anita cuma mau lihat Ibu dan Bapak rukun."


Beberapa bulan setelah wisuda, Anita menerima surat pengumuman: ia lolos seleksi ASN dan ditempatkan di kabupaten tempatnya dibesarkan.



---



Hari pertama bekerja, Anita mengenakan seragam cokelat dengan hati berbunga-bunga. Ia disambut rekan-rekan baru dengan ramah.


Malamnya, ia pulang ke rumah dengan sepeda motor barunya. Ibunya menyambut dengan masakan kesukaan Anita.


Badrun duduk di sudut, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Nak, Bapak nggak nyangka kamu bisa sampai di titik ini. Terima kasih sudah nggak pernah menyerah."


Anita memandang keduanya. "Semua ini untuk kita bertiga. Aku nggak mau ada lagi pertengkaran di rumah ini. Kita mulai dari awal, ya?"


Badrun mengangguk. "Bapak janji, kali ini benar-benar janji."


Sulastri hanya tersenyum, berharap janji itu bukan sekadar kata-kata.


Dan di ruang sederhana itu, Anita merasakan hangat yang sudah lama hilang—hangat yang ia doakan akan bertahan selamanya.

Kamis, 06 Oktober 2022

Handphone yang di sita

 Nama: Dia pitaloka

Kls :1X.A

Judul :Handphone Yang Kena Sita



Pada suatu hari saya masuk sekolah hari senin. Perkenalkan nama saya Bunga Putri Sanjaya biasa di panggil Bunga. Saya tipe orang yang pemalas dan tidak menepati peraturan sekolah. Saya memiliki sahabat yang bernama Bintang. Bintang tipe orang yang baik, Rajin dalam mengerjakan tugas, Dan satu yang di sayangkan dia sama seperti saya tidak menepati peraturan sekolh.


Pada hari senin kami masuk sekolh, Seperti biasa kami selalu membawa hendphone. Pada saat itu kami di peringatkan oleh teman kami yang berna Jesika.


"Kalian mengapa membawa hendphone, Kan peraturan sekolh tidak boleh membawa hendphone ?"Tanya Jesika.


"Ah kan guru tidak tahu kalo kami membawa hendphone" Jawab Saya.


"Tapi kalo ketahuan hendphone kalian akan di ambil" Kata Jesika.


"Tenang saja kami akan menyimpan hendphone kami dengan baik" Jawab Bintang.


"Yaudah kalo kalian masih mau membawa hendphone kekelas tapi ingat, Jangan di mainkan" Kata Jesika.


"Ya, kami tidak akan memainkannya" Jwab Saya.


Lalu kami pun masuk kedalam kelas. Pada saat itu ada orang lain juga yang membawa hendphone, dia memainkan hendphone saat guru ada di dalam kelas. Dia bernama Gita. Gita pun ketahuan, lalu dia pun di panggil kedepan menghadap ibu Erna.


"Hey kamu siapa nama kamu ?" Tanya buk Erna.


"Gita buk" Jawab Gita.


"Kenapa kamu membawa hendphone ke sekolah ?" Tanya buk Erna.


"Karna saya ingin menghubungi orang tua saya buk, untuk minta jemput setelah saya pulang sekolah" Jawab Gita.


"Hendphone kamu saya ambil dulu" Kata buk Erna.


"Apa ada lagi yang membawa hendphone lagi selain Gita?" Tanya buk Erna Lagi.


Disitu tidak ada yang mengaku termasuk Saya, lalu buk Erna menyuruh ketua kelas untuk memriksa tas satu persatu.


"Siapa ketua kelas?" Tanya buk Erna.


"Madhon buk" Kawab kami sekelas.


"Madhon priksa tas mereka satu persatu" Kata buk Erna.


"Oh iya buk" Jawab madhon.


Lalu tas kami pun di priksa satu persatu. Hendphone Bintang di masukkannya didalam laci meja biar tidak ketahuan tapi ternyata laci meja di priksa juga, hendphone Bintang pun di ambil. Lalu waktunya giliran saya hendphone saya, saya masukkan didalam tas lalu hendphone saya pun di ambil juga. Buk Erna mengatakan kepada kami.


"Mengapa kalian membawa hendphone, kan sudah ada peraturannya tidak boleh membawa hendphone ke sekolah ?" Tanya Buk Erna.


Tidak ada yang menjawab lalu buk Erna bilang!


"Hendphone kalian ibu ambil dulu" Kata buk Erna.


Kami pun melanjutkan pelajaran. Pada saat mau pulang hendphone kami di kembalika karna ini baru peringatan.


"Hendphone kalian ibu kembalikan, tapi ingat kalo masih membawa hendphone lagi tidak ada toleransi lagi untuk kalian" kata buk Erna.


"Iya buk kami janji tidak akan membawa hendphone lagi" Jawab kami Bersama.


Lalu hendphone kami pun di kembalikan kami sangat senang saat itu, kami pun pulang. Pada keesokan harinya tidak ada orang yang berani membawa hendphone lagi kecuali Saya dan Bintang. Lalu Jesika pun bilang kepada kami.


"Mengapa kalian masih membawa hendphone, kan sudah di peringati oleh buk Erna kalo kalian ketahuan lagi masih membawa hendphone, tidak ada toleransi lagi" Kata Jesika.


"Ah tenang aja kali ini kami akan lebih berhati hati lagi" Jawab Saya.


Lalu buk Erna punmasuk kedalam kelas, kami tidak tahu bahwa hari ini diadakan razia seluruh kelas. Kami ketakutan nanti hendphone kami ketahuan lagi.


"Bintang hendphone kamu di simpan di mana ?" Tanya Saya.


"Didalam laci tempat orang yang gak masuk sekolh" Jawab Bintang.


Lalu saya masukkan hendphone saya ke dalam sepatu agar tidak ketahuan. Pada saat Bintang yang di periksa hendphone Bintang tidak ada didalam tas dan di dalam laci mejanya, lalu ada satu orang yang bilang!


"Hendphone Bintang ada di dalam lacu dimeja depannya" Kata Nagita.


Lalu hendphone Bintang pun diambil. Tiba saatnya giloran saya, guru tidak menemukan apapun di mejasaya akhirnya hendphone saya tidak ketahuan. Pas saat istirahat ada satu murid yang tahu bahwa hendphone saya ada di dalam sepatu ia bernama Amanda ia pun mengatakannya kepada buk Erna.


"Buk hendphone Bunga ada di dalam sepatunya" Kata Amanda.


"Ambil Amanda bawa kesini" Kata buk Erna.


"Dia tidak mau memberikannya buk" Kata Amanda.


Buk Erna pun masuk kedalam kelas untuk mengambil hendphone saya.


"Bunga dimana hendphone kamu ?" Tanya buk Erna.


"Tidak ada buk saya tidak membawa hendphone" Jawab Saya.


"Amanda dimana hendphone nya ?" Tanga buk Erna.


"Didalam sepatunya buk" Jawab Amanda.


Lalu buk Erna memeriksa di dalam sepatu saya, ternyata tidak ada karna sudah saya pindahkan ke tempat yang berbeda yaitu laci. Buk Erna memeriksa di dalam laci juga akhirnya hendphone saya pun di ambil juga. Saya sangat sedih saat itu saya minta maaf kepada buk Erna!


"Maaf buk saya janji kali ini saya tidak akan membawa hendphone lagi kesekolah" Kata Saya.


"Maaf kamu sudah telat, kan sudah ibu peringatkan jangan lagi membawa hendpgone ke sekolah" Jawab buk Erna.

"Saya Membawa hendphone karna saya ingin menghubungi orang tua saya buk untuk minta jemput setelah pulang sekolah" Kata Saya.


Buk Erna tidak mendengarkan ia langsung membawa hendphone saya pergi. Lalu saat pulang hendphone kami tidak di kembalikan, saya pun bertanya kepada buk Erna!


"Hendphone di sita selama berapa hari Buk ?" tanya Saya.


"Satu Bulan" Jawab buk Erna.


Saya pun pulang bersama Bintang, saya sangat marah saat itu tapi saya juga sadar bahwa ini juga kesalahan saya yang tidak mentaati peraturan sekolah. Dirumah ibu saya bertanya kepada saya! 


"Di mana hendphone kamu ?" Tanya ibu saya.


"Disita guru buk" Jawab Saya.


"Selama berapa hari ?" Tanya ibu saya.


"Satu Bulan" Jawab Saya.


"Makanya jangan membawa hendphone ke sekolah, kamu memang ngeyel kalo di bilangin" Kata ibu saya sambil memarahi saya.


Lalu saya sekolah seperti biasa tanpa hendphone. Saya merasa hampa tanpa adanya hendphone, tapi saya sadar bahwa guru mengambil hendphone saya karena saya yang salah. Sayapun terbiasa tanpa hendphone. Satu bulan telah berlalu, Tiba Saatnya hendphone kami di kembalikan.


"Syarat mengambil hendphone yang kena sita kemaren bawak matrai bersama orang tua" Kata buk Erna.


"Oke Buk" Jawab kami Sekelas.


Lalu ibu saya mengambil hendphone saya ke kantor, saya tidak ikut karna pada saat itu saya ketiduran. Hendphone saya pun di kembalika.


"Ingat jangan membawa hendphone lagi kesekolah kalo masih kamu bawa aku nggak mau lagi mengambilnya" Kata ibu Saya.


"Oh iya buk" Jawab Saya.


Saya Sangat senang saat itu, setalah kejadian itu saya tidak mau lagi membawa hendphone ke sekolah Bintang pun begitu, kami sepakat berdua akan menepati peraturan sekolah. Jesika pun ikut senang karena kami sudah mulai berubah, kamipun sekolah seperti biasa tanpa membawa hendphone.

Aku korban bullying di sekolah

Nama: Tentri Anggraini

Kelas :IX.A

Judul : aku korban bullying di sekolah


Haii aku tentri, dahulu aku punya dua orang sahabat yang begitu akrab denganku, yang bernama ecaa dan ghea. Kami sahabatan dari SD. sampai lah kami duduk di bangku kelas 7 SMP negeri 2 abab, bertambah lah teman kami yang bernama cinta dan cinta pun menghasut ecaa dan ghea untuk memusuhiku, mereka pun memusuhi ku karena di hasut oleh cinta, waktu pun berlalu aku terus di bully oleh cinta , ecaa dan ghea pun tidak tega melihat ku, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika mereka menolong ku mereka pun akan di bully juga oleh cinta.


Seiring nya waktu kami naik ke kelas 8 SMP dan cinta pun masih membully ku habis-habisan tentang fisik, keluarga ,ekonomi dan prestasi, dan aku pun tidak kuat lagi hingga aku tidak mau masuk sekolah karena selalu di bully. Dan dimana saat nya aku dapat surat panggilan dari pihak sekolah karena sudah sering tidak masuk sekolah, ibuku pun bertanya mengapa engkau jarang masuk sekolah?

Dan aku pun menjawab nya, aku selalu di bully habis-habisan, ibuku pun menjawab. "Tidak usah di pikirkan apa kata orang, jika mereka berkata buruk tentang kamu jangan di dengarkan pura-pura tidak dengar saja semua pasti ada karma nya."


Aku pun mulai memberikan diri untuk masuk sekolah,cinta pun masih saja membully ku dan aku pura-pura tidak dengar saja ,dan tibalah bel sekolah berbunyi untuk istirahat aku pun keluar kelas untuk pergi ke kantin,ternyata cinta juga menghasut kakak kelas untuk memusuhi ku dan aku pun tidak peduli. Dia pun menghina ku dan menjatuhkan ku di depan orang banyak.

Berjalan nya waktu sampailah kami masuk ke semester 2,di saat pembagian raport ternyata semua orang menjauhi cinta karena sikap nya yang membuat orang tidak nyaman


Dan mereka pun berteman dengan ku, ecaa dan gheaa meminta maaf kepada ku karena telah meninggalkan ku dan aku pun memaafkan nya,kami begitu akrab dan cinta dimusuhi oleh banyak orang karena terus membully orang yang lebih rendah dari nya.


Sampai lah kami duduk di kelas IX.A ,kami bertiga masih sahabtan dengan baik,dan cinta pun berteman dengan ku aku pikir dia akan berubah setelah di musuhi banyak orang ternyata tidak.dia masih saja membully,menghina, merendahkan dan memandang rendah ekonomi orang,aku pun menegurnya,cinta kamu jangan membully orang terus ingat kamu selalu memandang rendah orang tapi kita tidak tahu esoknya seperti apa mungkin kamu yang akan dipandang rendah oleh orang karena tingkah laku mu? Jadi stop membully orang dan memandang rendah orang, cinta pun tidak terima karena di nasehati dan dia pun menjawab nya " Halah kayak ga pernah ngomongin orang !" Aku pun menjawab nya,tapi aku tidak pernah membully orang apalgi sampai merendahkan martabat orang seperti mu .


Karena aku tidak tahan dengan tingkah laku nya aku pun menjauhi nya ecaa dan gheaa pun ikut menjauhi nya.


Aku pun merenungkan perkataan ibuku , ternyata ibuku benar, "tidak usah di pikirkan apa kata orang, jika mereka berkata buruk tentang kamu jangan di dengarkan pura-pura tidak dengar saja semua pasti ada karma nya"


Semangat untuk korban bullying !

Sabtu, 01 Oktober 2022

Cerpen

Hai!... nama ku Maura dan aku mempunyai teman yang sangat cantik dan baik, namanya "Ayu Selviana" nama yang keren bukan? 

Kami adalah siswa kelas IX "SMP MAWAR BERDURI" yang ada di desa Prambatan.

Aku dan Ayu berteman sejak sekolah dasar/SD,  pertemanan kami  sangat awet hingga sekarang, dan secara kebetulan kami menjadi teman sebangku di tahun ini. Tidak terasa yaa tahun berlalu begitu cepat, sebentar lagi kami akan semakin dewasa dan akan mulai sibuk dengan urusan masing-masing. 

Sebelum kami memulai kehidupan yang sibuk itu, kami mempunyai pengalaman yang sangat menegangkan dan akan kami kenang dimasa tua nanti, apakah kalian ingin mendengarkan cerita ku? Baiklah aku akan menceritakan pengalaman itu 

Pada Jum'at, Agustus 2022 lalu, aku di tugaskan oleh guru BK. Setelah semua siswa/siswi sudah mengumpulkan uang kas, aku di tugaskan untuk mencetak buku BK. Lalu akupun berfikir untuk mengajak ayu untuk menemaniku mengerjakannya sepulang sekolah. 

Pada sore itu, hujan begitu deras dan tidak lama dari itu mulai meredah. Setelah hujan redah, ku pun menjemput Ayu di rumahnya agar ia bisa menemaniku ke desa sebelah. karena ternyata, di desa ini tidak ada yang bisa mencetak buku BK. 

Sore menjelang malam kami nekat berangkat ke desa sebelah mengendarai sepeda motor, saat di perjalanan hujan mulai turun lagi dan kami singgah di pinggir jalan untuk memakai jaz hujan supaya tidak kebasahan, lalu kami meneruskan perjalanan.

Sesampainya di desa sebelah kami bergegas ke toko ATK/tempat pencetakan buku BK, tapi ternyata tokonya tutup. Mungkin karena sudah terlalu sore. 

Sungguh malang nasib kami, sudah jauh-jauh eh ternyata tokonya tutup.  Akhirnya kami memutuskan untuk makan-makanan yang hangat di cuaca yg dingin ini. Kemudian kamipun pergi ke warung bakso untuk menghangat kan perut kami. 

Setelah kami selesai makan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Tidak terasa hari sudah gelap dengan kondisi cuaca yang masih sangat buruk, aku melajuhkan sedikit lebih cepat kendaraan ku, walaupun wajah ku diterjang air bagaikan di tusuk jarum, karena hari sudah sangat gelap dan kami masih berada di desa orang.

Saat kami melintasi jalan yang penuh dengan pepohonan aku melihat segerombolan pemuda yang lebih dewasa dari kami, awalnya kami senang karena punya teman pulang, tetapi saat aku melihat lebih teliti aku sangat kaget setengah mati, ternyata mereka membawa benda yang sangat berbahaya, yah, mereka membawa cerurit, kapak, dan benda tajam lainnya. Mereka adalah segerombolan begal yang mencari korban di malam hari pikirku.

Dari kejauhan aku memperlambat laju motorku dan mematikan lampu kendaraan ku supaya mereka tidak melihat kami di belakang.

Aku berbicara kepada Ayu. 

Aku: Ayu bagaimana ini apa yang harus kita lakukan? (berbicara tertaba-taba) 

Ayu: kita harus mencari bantuan!

Aku: tapi tidak ada seorang pun di sekitar sini!

Ayu: ayo  kita putar balik saja dan mencari bantuan!

Aku: Tidak bisa yu, kita sudah hampir sampai ke desa kr. Agung (desa sebelum desa kami), dan akan sangat jauh jika kita putar balik 

Ayu: kalau begitu kita harus lebih cepat ke desa kr. Agung dan meminta bantuan di sana 

Aku: tapi kita akan melewati para begal itu 

Ayu :aku pun tidak tahu Maura, aku sudah sangat takut. 

Melihat raut wajah ayu yang sangat ketakutan dan air mata yang berlinang, aku merasa bersalah sekali karena telah meminta ayu untuk menemaniku.

gelisah, panik, cemas, takut perasaan yang aku rasakan pada saat itu 

Aku : baiklah ayu pegang yang erat!

Ayu : apa yang kamu lakukan Maura?

Aku : kita akan melewati para begal itu!

Ayu : Tttt- t...tapi Maura, ini pertaruhan nyawa!!!

Aku : setidaknya kita harus mencobanya! 

Aku mulai menyalakan mesin kendaraan ku dengan penuh keberanian, aku melajukan motor ku sekencang-kencang nya

Wuuuisshhhhhh... *suara angin saat kami melewati para begal itu. 

HEY... para begal itu melemparkan kapak ke arah kami, beruntungnya aku dapat menghindari kapak yang melayang itu dengan cepat, para begal itu mengejar kami, kamipun sangat panik.

Setelah tiba di desa kr. Agung akupun bergegas singgah di perumahan terdekat dan mengetuk pintu tuan rumah. Tersebut, sepertinya para begal itu tau bahwa kami adalah warga prambatan dan mereka menanti kami lewat di ujung jalan desa kr. Agung. 

Tidak disangka Rumah yang kami singgahi adalah rumah teman pesantren ku, itu adalah rumah haya dan yang membukakan kami pintu adalah ibunya haya. Kami menceritakan kejadian yang kami alami kepada ibu haya, ibu haya sangat syok dan matanya berbinar-binar saat memeluk kami dan berkata "para begal itu memang sering kali membuat warga resah".ibu haya pun menenangkan kami dan mengajak kepala desa serta warga untuk menangkap para begal itu dan benar para begal itu memang menunggu kami, para begal itu sangat kaget karena melihat para warga dan mobil polisinya datang memojoki mereka, salah satu dari begal itu lari terbirit-birit karena ketakutan akhirnya para begal itu di tangkap dan tidak ada lagi yang membuat khawatir, kami pulang ke rumah diantar warga setempat.

Sesampainya di rumah aku dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuaku, begitu juga dengan Ayu. bagaimana mereka tidak marah karena kami pulang pukul 21:40. Tetapi setelah kuceritakan kejadian yang menimpah kami tadi, ibuku memelukku begitu erat dan menangis, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia langsung menyuruhku untuk bergegas mandi dan segera tidur. 

Keesokan hari nya aku pergi ke sekolah dan ditanyai guru BK

"Maura, mana buku yang Ibu tugaskan kemarin? " lalu aku berkata "maaf buk, tokonya tutup" . balas guru BK "oh yaudah, kalau gitu gakpapa, biar ibu yang lanjutin".

Setelah perbincanganku dengan guru BK selesai, aku bergegas mencari Ayu untuk melihat kondisinya ternyata Ayu tidak apa-apa. Aku meminta maaf kepada Ayu karena sudah melibatkan dia dalam masala ini. Tidak disangka Ayu berkata "tidak apa-apa Maura, sekalian kita buat kenangan, sambil tersenyum". Kamipun tertawa bersama. 


Sejak saat itu kami tidak pernah lagi berpergian tanpa ditemani orang dewasa. 


                         


Karya:Maura Rizky Aulia & Ayu Selfiana

Jumat, 20 Desember 2019

Cerita Sejarah "Puyang Konyet"

Puyang Konyet

*Radesa, Puput Trianti,
 dan Mika Purnama Sari
MADRASAH ALIYAH MAMBA’UL HIKAM

      Dahulu ada pendatang yang berasal timur-timur ke bumi sriwijaya, berhubung pada saat itu bumi sriwijaya, atau tepatnya pusat kota Palembang tengah membangun sebuah benteng. Sehingga orang-orang tersebut itu pindah tempat lain. Mereka menyusuri sungai musi kemudian menemukan sungai batang hari abab, dan singgahlah mereka di sebuah desa yang mereka sebut dengan desa Batu Tugu. Saat mereka datang melalui jalan desa Batu Tugu menuju ke desa Batu Sari atau sekarang dengan nama Desa Prambatan. Ketika itu ada seorang Puyang yang mendengar suara dibalik semak-semak, yang dikiranya suara itu berasal dari hewan yakni babi hutan. Tiba-tiba Puyang mengeluarkan keris yang ada di pinggangnya yang berukuran jari telunjuk, dan ditusukkanlah di babi hutan tersebut. Puyang tidak tahu bahwa yang ditusuknya itu adalah anak seorang Raja yang ia kira orang tersebut adalah seorang penjajah. Tanpa rasa bersalah, pulangnya Puyang ke rumahnya dan pulanglah anak Raja beserta rombongannya dengan membawa anak Raja yang sedang terluka oleh tusukan keris Puyang Kunyit tersebut. 
       Ketika itu Puyang Kunyit hendak pergi ke kebun seperti biasanya. Puyang Kunyit keheranan, kenapa selama diperjalanan dia tidak menemukan seorangpun yang akan pergi ke kebun. Lalu kemudian dia berpapasan dengan seseorang dan kemudian dia bertanya, : kenapa orang-orang tidak banyak yang pergi ke kebun?”, lalu seseorang itu menjawab, ´memangnya Puyang tidak tahu? Puyang bertanya lagi, “memangnya ada apa? (dengan raut wajah yang bingung). Dengan wajah yang sedih, orang itu menjawab  “ ada kabar duka Puyang, anak Raja sedang sakit. Dijawab lagi oleh Puyang, ya ampun, ya sudah mungkin saya bisa membantu untuk menyembuhkannya. Tapi saya ingin dijemput di rumah saya di tengah hutan. Orang tadi menjawab, nanti akan saya sampaikan  kepada Raja.
        Kemudian orang-orang tadi bergegas datang menemui Raja untuk menyampaikan kabar baik bahwa ada yang bisa menyebuhkan penyakit anaknya. Orang itu sambil terengah-engah menemui Raja dengan wajah yang gembira. “Maaf Raja, saya ingin memberi tahu bahwa ada salah satu orang yang bisa menyembuhkan putramu”. Raja pun terkejut dengan raut wajah yang bahagia, Raja bertanya, “siapa orang itu dan dimana tempatnya?” orang itu menjawab, “ Dia adalah seorang Puyang, tempat tinggalnya di tengah hutan. Dia bersedia mengobati putra Raja tapi dia ingin dijemput Raja”. Kemudian Raja segera memerintahkan salah satu pengawal untuk menjemput Puyang dan membawanya ke kediaman Raja. 
          Tibalah orang tadi dan pengawal Raja di rumahnya Puyang. Orang itu memanggil Puyang dan mengatakan, “Puyang, kami diperintahkan oleh Raja untuk menjemput Puyang”. Puyang itu menjawab, “ya, tunggu sebentar saya siap-siap dulu”. Tidak berapa lama kemudian Puyang sudah siap untuk berangkat menemui Raja. 
         Sesampainya ditempat Raja, Puyang itu dipersilahkan masuk untuk melihat keadaan anak Raja yang sedang kesakitan. Puyang itu bertanya kepada anak Raja, bagian mana yang sakit? Anak Raja berkata “di sini, sambil memegang paha bagian kanan. Puyang pun melihat ke arah paha anak Raja sambil bergumam dalam hati. “ sambil bergumam dalam hati”, ini kan keris saya? Kok bisa ada di sini? Bukannya waktu itu saya menusuk babi hutan?”. 
          Kemudian Puyang memerintahkan pengawal untuk mengambil nampan dedak, ambillah oleh pengawal dedak tersebut dan diberikan kepada Puyang. Puyang memerintahkan kepada Raja dan para pengawal untuk keluar dari kamar anak Raja kecuali Puyang dan anak Raja. Setelah mereka keluar, Puyang pun mencabut keris yang ada di paha anak Raja tersebut. Anak Raja terlihat sangat kesakitan saat keris dicabut dari pahanya. Lalu setelah itu, Puyangt pun meletakkan keris tersebut di atas nampan tadi yang berisi dedak tadi. 
         Setelah itu Puyang memberikan segelas air ramuan kepada anak Raja, ketika sudah minum air tersebut anak Raja langsung sembuh dan kegirangan karena sudah merasa sehat. Keluarlah Puyang dari kamar anak Raja sambil menemui Raja. Puyang berkata bahwa anak Raja sudah sembuh. Dan saya ingin pulang. Tapi saya tidak ada uang. Kira-kira apa yang bisa Raja berikan kepada saya? Lalu Raja memberikan se-bunang emas. Puyang mengira kalau yang ada di dalam bunang tadi itu adalah kunyit. Sembari berjalan pulang ke rumahnya, Puyang merasa sangat keberatan karena membawa se-bunang kunyit tadi, dibuanglah sedikit demi sedikit kunyit dalam bunang tadi sambil menggerutu. “saya sudah jauh-jauh dari hutan untuk mengobati putranya yang sekarat, eh malah cuma diberikan sebunang kunyit” ucap Puyang dalam hati.  
        Ketika tiba di rumah, Puyang melihat lagi  isi bunang yang ia kira hanya kunyit tersebut yang kira-kira tersisa segumpal tangan. Setelah dilihat lagi oleh Puyang, betapa terkejutnya Puyang, ternyata isi bunang yang sudah susah payah ia bawa dari tadi bukan berisi kunyit melainkan berisi bongkahan-bongkahan emas. Karena menyesal, kembalilah Puyang ke jalan yang dilewatinya tadi untuk mencari emas yang sudah dibuangnya tapi sayang, saat Puyang mencarinya, dia tidak menemukan apapun di jalan yang sudah dilewatinya. Dan karena kejadian itulah, sampai saat ini orang-orang desa menjulukinya dengan nama Puyang Kunyit. 



1. Bunang adalah sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu

Senin, 10 April 2017

Cerpen


Wanita itu, Merebak Seluruh Penjuru
Karya Anggi Anggraini
Desa Prambatan, sekilas mendengar namanya biasa saja seperti kebanyakan nama desa lainnya. Namun siapa sangka, bahwa ada banyak cerita yang tersirat dibalik nama desa ini. Ya, Prambatan. Yang asal mulanya berasal dari kata rambat. Karena pada zaman dulu, jauh sebelum Indonesia merdeka, daerah ini hanyalah hutan belantara di Pedalaman Pulau Sumatera. Semulanya daerah ini hanya ada seorang cendikiawan yang dijuluki sebagai Puyang dan membangun pondok kecil sebagai tempat persembunyian dari Tentara Belanda di masa penjajahan. Kemudian satu persatu rumah mulai tumbuh bagai jamur di musim hujan. Merambat kemana-mana membelah hutan belantara dengan rumah-rumah kaca dan lantai betonnya. Dan sekarang. hutan-hutan telah dicabik-cabik oleh alat berat yang menjadikannya lahan sawit. Udara-udara telah dikoyak oleh asap tebal pabrik batu hitam penyalur listrik sebagai bentuk generalisasi era modern dan menyebabkan ketamakan bagi umat manusia.
Langkah kakiku setapak demi setapak melewati aspal jalanan dan mencuri udara segar pagi ini ditanah kelahiranku sendiri. Meski matahari belum menampakkan wajahnya, ku dengar ada suara motor yang berpapasan denganku karena masih gelap, hanya terlihat dua orang yang memakai baju dengan bekas getah, tas sandang merk beras cap burung rangkong dan bak getah di belakangnya tersenyum padaku dan saat kulihat, tak lain dan tak bukan mereka adalah mang dolah adik ayahku dan istrinya bik imah. Mereka menghentikan laju motornya.
Pagi pak, jogging terus caknye? “Sapa lelaki itu sambil tertawa”.
Ao mang, biasolah ngirup udara segar pagian ni eluk untuk paru-paru. nateng mang? (aku balik bertanya)
Ao kan ay, jadilah besejo. Ngekuk balam ari pengujan mikek. Kalu bae agek getah nak mahal. Jadi mamang dengan bibik e nih pacak kalangan meli ikan teri beh jadilah. (jawab lelaki itu dengan lantang )
Ay ao, dikit tulah mang besejo nih aman lah banyak pulek laen lagi ceritenye. (jawabku dengan nada lembut)
Ao molenye, ay lah bujang nian nakan ku ikak. Payo pegi dulu pak komandan, siang ari agek dak begetah lagi aman lah siang igek.
Ao mang…(Aku selalu tersenyum saat adik dari ayahku ini selalu memanggilku dengan sebutan itu. Karena memang seluruh masyarakat desa ini pun tau, bahwa setelah lulus SMA aku akan meneruskan perjuangan ayahku menjadi seorang tentara yang menegakkan keadilan dan kedamaian negeri ini. Itulah sebabnya sejak kecil aku selalu rajin olahraga dan latihan fisik sampai sekarang).
Bibirku terasa beku dan tubuhku terasa gemetar setiap kali aku melewati pemakaman desaku. Dari kejauhan terlihat samar-samar nama nisan hitam mengkilap yang tak asing bagiku. Beberapa tahun silam, saat aku baru berusia 6 tahun, kami dikejutkan dengan kabar kepulangan ayahku. Ayahku, seorang tentara berpangkat panglima, tiba-tiba pulang dengan keadaan kaku dan hanya membawa nama. Ya, saat itu kriminalitas merajalela di negeri ini yang menyebabkan perpecahan antarbangsa. Meski kejadian ini sangat memukul keluarga kami, sampai detik ini tidak ada penjelasan yang pasti dari pemerintah maupun dunia kemiliteran tentang ayahku. Yang datang hanyalah tubuh kaku ayahku dibalik kain putih itu.  Aku masih ingat betul, kenangan wajah ayah saat ayah masih bermain bersamaku dan saat mengantar dinas terakhirnya dan sepucuk surat dari kemiliteran.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Untuk istriku tercinta, aku sangat berharap kalian tidak akan pernah menerima surat ini. Maaf, keadaan memaksa kalian harus membaca dan mendengar kabar kepulanganku dalam keadaan seperti ini. Istriku, kau tau betul, sepak terjangku telah berlenggang di jalan raya negeri ini. Namun, tombak pencarian merah putihku telah merobek naluriku. Saat ku tembak liar pemburu itu, kukira ambisinya akan lemas. Tapi dugaanku ternyata salah, ia malah terbebas lepas dan memusnahkan seragamku. Perlahan-lahan tikus-tikus jalanan mulai mendayuh-dayuh merogoh kocek semutku. Aku tidak bisa tinggal diam meski tanpa perlindungan seragamku, aku tetap memimpin anggotaku. Aku akan memburu dan menembak mati tikus itu.
Dan untuk anakku tersayang Ricky, maafkan ayah nak jika tidak bisa menghabiskan waktu untukmu dan ibumu. jadilah anak sholeh dan tolong lindungi ibumu nak
Maaf jika kepulangan ayah hanya membawa nama.
Tubuhku terasa berkali-kali, saat membaca surat itu. Tapi ada seseorang yang lebih sakit lagi dibanding aku, dia ibuku. Dia tetap tegar dan tersenyum membesarkanku meski berperan sebagai ayah dan sebagai ibu untukku. Ah sudahlah pikirku, semua itu hanya masa lalu. Sesampainya di rumah.
Assalamualikum emak (Terlihat seorang wanita sedang memasak)
Walaikum salam nak, alangkeh lamenye jogging lah siang ari nih malah lah nak dzuhur denga empai balek. Jangan terlalu neman igek jogging ni, diam diumah bae. (yaaa beginilah memang sikap ibuku selalu ngoceh-ngoceh saat aku jogging, bilangnya dzuhur padahal kan baru jam setengah delapan)
Payo sarapanlah, dem tu mandilah.
Ao mak.
Sebenarnya tatapan ibuku adalah kelemahanku dalam menggapai cita-citaku. Meski aku telah mendengar dukungan dari seluruh masyarakat desa ini, sampai sekarang aku masih belum mendengar sepatah dua kata dukungan dari ibuku. Setiap kali membicarakan setelah lulus SMA aku akan kemana, ia hanya diam dan mengurung diri di kamar. Dan karena itulah, kau menghindari membicarakan topik ini. Aku tau dia sangat terluka dengan kejadian dua belas tahun silam, namun ini adalah caraku mewujudkan keinginan almarhum ayah untuk melindungi ibuku.
Behubung hari ini adalah hari ahad, setelah selesai sarapan seperti biasanya aku selalu membersihkan rumah dan mengambil alih pekerjaan rumah seperti mencuci piring, mencuci baju, mengepel, menyapu dan lain-lain. Yaaa… walaupun aku sering dibilang bujang umah, tapi tidak masalah buatku karena aku tidak tega jika menatap wajah ibuku, rasanya sudah cukup beban yang harus dideritanya selama ini. Setelah selesai mengerjakan semuanya, akupun mengambil gitar yang kupinjam dari temanku dan menyanyikan di teras rumah.
Saat lulus SMA dan setelah sewindu lamanya aku menunggu, jawabannya singkat saja, “Ky, kau tau betul nak. Beberapa windu yang lalu bagaimana penderitaan ibumu ini setelah kehilangan ayahmu nak. Rasanya ibu juga berkali-kali mati saat melihat seragam ayahmu yang ditergantung di lemari ibu, ibu juga terasa sesak saat membaca sepucuk surat mendiang ayahmu. Lantas, inikah caramu untuk melindungi ibu? Dengan pergi menjauh dari? Pada akhirnya kau pun akan sama pergi dinas jauh dari ibu. Tidak ada orang tua yang tidak mau anaknya sukses, tapi nak kau anak ibu satu-satunya. Mengabdilah pada negeri tapi tidak harus menjauh dari ibu.
Aku merasa seperti disambar petir setelah mendengar jawaban ibu. Mungkin karena ini yang membungkamnya agar ia tidak akan sakit seperti ini. Deksripsiku yang ingin melindunginya dengan seragam itu, nyatanya telah menancapkan luka yang sama. Aku hanya egois jika berpikir ingin menggantikan posisi almarhum ayah. Dan lihat wanita itu, ia memang keras seperti batu tapi hatinya mengalir seperti air yang menghilangkan dahaga. Dengan berlinangan air mata kupeluk erat ibuku.