Rabu, 13 Agustus 2025

Janji di Ujung Musim

 Judul: “Janji di Ujung Musim”

Karya Anggia


Pagi itu udara di desa masih diselimuti kabut tipis. Anita, siswi kelas 12 IPA SMA Negeri di kecamatan sebelah, mengayuh sepedanya melewati jalan tanah yang licin karena hujan semalam. Tasnya digendong, dan di dalamnya ada buku-buku tebal: Biologi, Fisika, Kimia—teman setianya sejak kelas 10.


Ia selalu peringkat satu. Semua guru mengenalnya sebagai anak pintar, rajin, dan sopan. Tapi tak banyak yang tahu bahwa di balik prestasinya, Anita menyimpan beban yang berat.


Di rumah, ayahnya—Badrun—sedang terbaring di kursi panjang. Rokok terselip di jarinya, mata sayu, tubuh kurus, dan batuknya sesekali terdengar. Ia sakit-sakitan, tapi bukan karena tak mampu bekerja saja; ia juga pemalas, pemabuk, penjudi, dan sudah lama terjerat narkoba.


Ibunya, Sulastri, sudah berangkat ke kebun karet sejak subuh. Menggendong ember getah, menyusuri batang-batang karet sendirian.


Ketika Anita pulang sekolah sore itu, ibunya baru saja tiba dari kebun. Tubuhnya penuh peluh, tangannya kotor oleh bekas getah.


"Assalamualaikum," sapa Anita sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam," jawab ibunya lemah. "Sudah makan, Nak?"


"Belum, Bu. Nanti sekalian makan sama Ibu." Anita melihat ke arah ayahnya yang hanya melirik sekilas, lalu kembali memejamkan mata. Bau alkohol samar tercium di ruangan.


"Ibu... Ayah lagi minum?" bisik Anita.


Sulastri menghela napas panjang. "Entahlah. Ibu sudah capek ngomel tiap hari. Kamu fokus belajar saja, ujian sebentar lagi."


Anita menunduk. "Bu, kalau Ibu capek, jangan dipendam sendiri. Anita bisa bantu nyadap karet kalau perlu."


"Tidak usah, Nak. Ibu tidak mau masa sekolahmu terganggu."


Badrun tiba-tiba membuka mata. "Kamu ini, Latri, ngomong apa sih ke anak? Jangan ngajak dia nyalahin Bapak."


Sulastri menatap tajam. "Saya nggak ngajak nyalahin. Cuma ngomong fakta. Kamu ini kerjaan cuma tidur, minum, main judi, nyabu. Mau sampai kapan?"


"Hei, jangan sembarangan ngomong!" Badrun bangkit, suaranya meninggi. "Aku sakit, Latri. Badan ini nggak kuat kerja berat."


"Sakit? Sakitnya karena ulah kamu sendiri! Uang habis buat judi, mabuk, narkoba. Karet kita cuma tinggal sedikit, itu pun aku yang nyadap!"


Anita berdiri di tengah, mencoba menenangkan. "Sudah... sudah, Bu, Pak. Tolong jangan ribut di depan Anita."


Tapi di hatinya, Anita mulai merasa takut. Ujian nasional sudah dekat, dan rumahnya seperti bom waktu yang siap meledak.



---


Beberapa minggu kemudian, suasana rumah makin panas. Suatu malam, Anita terbangun karena mendengar suara piring pecah. Ia keluar kamar, dan melihat ibunya berdiri dengan mata merah, sementara ayahnya terduduk di lantai.


"Aku nggak sanggup lagi, Bad. Besok aku mau urus cerai," suara ibunya bergetar, tapi tegas.


Badrun terdiam sejenak, lalu mencoba berdiri. "Latri, jangan. Jangan cerai. Aku janji... aku akan berubah."


"Janji? Janji yang ke berapa kali? Sudah berapa tahun aku dengar janji itu, Bad? Setiap kali kamu bilang mau berubah, ujung-ujungnya sama. Aku yang kerja sendirian, kamu habiskan uang."


Badrun terisak—entah karena benar-benar menyesal atau hanya takut kehilangan tempat tinggal. "Kali ini serius, Latri. Aku... aku nggak mau anak kita malu. Aku mau Anita lulus, kuliah, sukses."


Anita berdiri di sudut ruangan, menatap keduanya. Suara tangisnya akhirnya pecah. "Ibu, Ayah... tolong... jangan pisah sekarang. Tunggu Anita selesai ujian. Kalau nanti Ibu mau cerai, terserah, tapi sekarang... tolong."


Sulastri memejamkan mata, menarik napas dalam. "Baiklah. Aku tahan sampai anak kita lulus. Tapi kalau kamu ingkar lagi, Bad, aku nggak peduli."


Badrun mengangguk cepat, seperti orang yang baru saja mendapat napas tambahan.



---

Sejak malam itu, Badrun sedikit berubah. Ia mulai ikut ke kebun, meski sebentar saja. Paling tidak, ia tak lagi mabuk setiap hari. Anita berusaha memusatkan pikiran pada ujian nasional.


Di sekolah, ia duduk di bangku paling depan, menyimak setiap penjelasan guru. Teman-temannya sering memuji, bahkan iri karena nilainya selalu di atas.


"Anita, nanti lulus mau kuliah di mana?" tanya Rani, sahabatnya.


"Aku mau daftar ke universitas negeri di kota. Jurusan Biologi," jawab Anita mantap.


"Hebat. Semoga keterima, ya."


"Amin."


Namun di balik senyum itu, Anita tetap dihantui kecemasan: apakah keluarganya bisa tetap utuh sampai hari pengumuman kelulusan?



---

Hari itu SMA ramai. Semua siswa berkumpul di lapangan, menunggu hasil kelulusan. Wali kelas membagikan amplop.


Anita membuka amplopnya dengan tangan bergetar. Nilai sempurna. Ia dinyatakan lulus dengan peringkat pertama se-kabupaten.


Ibunya memeluknya erat. "Ibu bangga sekali sama kamu, Nak."


Badrun ikut tersenyum, meski wajahnya pucat. "Bapak janji, Nak, mulai sekarang Bapak bener-bener berubah."


Anita hanya mengangguk. Di hatinya, ia ingin percaya, tapi pengalaman mengajarkannya untuk tidak terlalu berharap.



---


Dengan nilai gemilang, Anita mendapat beasiswa kuliah di universitas negeri. Ia pindah ke kota, tinggal di kos sederhana.


Hari-harinya diisi kuliah, praktikum, dan belajar di perpustakaan. Sesekali, ia pulang ke desa.


Suatu kali, ia pulang dan mendapati ayahnya duduk di teras, tampak lebih sehat. "Nak, Bapak sekarang sudah ikut pengajian tiap minggu," katanya.


"Bagus, Pak," Anita tersenyum tipis.


Namun ibunya kemudian berbisik di dapur, "Jangan terlalu percaya. Kadang-kadang dia masih keluyuran malam."


Anita hanya bisa menghela napas. Perubahan memang tidak bisa instan.



---


Empat tahun kemudian, Anita lulus kuliah dengan predikat cum laude. Ia langsung mendaftar seleksi ASN.


Badrun dan Sulastri hadir di wisudanya. Ayahnya bahkan menangis di bangku tamu. "Nak, Bapak bangga sekali. Maafkan Bapak yang dulu-dulu," ucapnya setelah acara selesai.


Anita tersenyum. "Yang penting sekarang Bapak mau berubah. Anita cuma mau lihat Ibu dan Bapak rukun."


Beberapa bulan setelah wisuda, Anita menerima surat pengumuman: ia lolos seleksi ASN dan ditempatkan di kabupaten tempatnya dibesarkan.



---



Hari pertama bekerja, Anita mengenakan seragam cokelat dengan hati berbunga-bunga. Ia disambut rekan-rekan baru dengan ramah.


Malamnya, ia pulang ke rumah dengan sepeda motor barunya. Ibunya menyambut dengan masakan kesukaan Anita.


Badrun duduk di sudut, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Nak, Bapak nggak nyangka kamu bisa sampai di titik ini. Terima kasih sudah nggak pernah menyerah."


Anita memandang keduanya. "Semua ini untuk kita bertiga. Aku nggak mau ada lagi pertengkaran di rumah ini. Kita mulai dari awal, ya?"


Badrun mengangguk. "Bapak janji, kali ini benar-benar janji."


Sulastri hanya tersenyum, berharap janji itu bukan sekadar kata-kata.


Dan di ruang sederhana itu, Anita merasakan hangat yang sudah lama hilang—hangat yang ia doakan akan bertahan selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar