Rabu, 13 Agustus 2025

Langkah yang Tak Pernah Mundur

 Judul: “Langkah yang Tak Pernah Mundur”

  Karya Anggia

Pagi itu, Rahmah duduk di meja makan yang penuh dengan berkas tagihan. Tangan kanannya memegang pulpen, mencatat pengeluaran bulan ini di buku catatan lusuh yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Di sebelahnya, segelas teh hangat mulai kehilangan uapnya.


Suaminya, Hadi, baru saja selesai sarapan dan hendak berangkat kerja.

"Mah, jangan lupa bayar listrik hari ini, ya," katanya sambil mengancingkan kemeja.


Rahmah tersenyum tipis. "Iya, Bang. Aku sudah sisihkan uangnya."


Hadi menatap catatan Rahmah sebentar. "Uang kuliah Arif masuk bulan ini, kan?"


Rahmah mengangguk. "Iya. Semester enam. Uang kuliah, buku, sama kosnya."


"Kalau kurang, kasih tahu aku. Tapi ya, kamu tahu sendiri kondisi keuangan kita."


"Aku tahu, Bang," jawab Rahmah lirih. "Tapi Arif harus selesai kuliah. Aku nggak mau dia berhenti di tengah jalan."


Hadi menghela napas. "Aku bangga sama kamu, Mah. Tapi jangan lupa, kita juga punya anak yang butuh biaya."


Rahmah mengangguk, walau hatinya berat. Ia memang sudah bertekad sejak awal: Arif, adik bungsunya, harus kuliah sampai selesai. Sebagai anak pertama, ia merasa itu tanggung jawabnya, apalagi sejak ayah dan ibunya pensiun dari kebun karet dan penghasilan mereka nyaris tak ada.



---

Arif adalah adik bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya, Fitri, sudah menikah dan tinggal di kota lain. Rahmah sendiri menikah muda dan memiliki seorang anak perempuan berusia 5 tahun.


Sejak Arif lulus SMA dengan nilai bagus, Rahmah langsung mengatakan,

"Arif harus kuliah. Kak Rahmah sama Bang Hadi akan bantu biayanya."


Waktu itu Arif sempat menolak. "Tapi, Kak... biaya kuliah mahal. Mending uangnya buat anak Kakak saja."


"Tidak. Kamu harus kuliah. Itu investasi buat masa depan keluarga kita," jawab Rahmah tegas.


Dari situ, Rahmah mulai mengatur keuangan lebih ketat. Gajinya dari pekerjaan sebagai admin toko bahan bangunan sebagian besar masuk untuk biaya kuliah Arif. Hadi juga membantu sebisanya dari gaji sebagai sopir travel.



---


Semester enam berjalan. Arif semakin sibuk dengan penelitian dan persiapan skripsi. Suatu siang di bulan Maret, Rahmah menerima telepon dari Fitri. Suaranya terdengar panik.


"Mah, Ayah masuk rumah sakit. Ibu juga ikut sakit, mungkin karena kecapekan ngerawat Ayah."


Rahmah terkejut. "Apa? Sejak kapan?"


"Tadi pagi. Ayah nggak bisa bangun dari tempat tidur. Ibu pusing berat. Sekarang mereka dirawat di RSUD."


Rahmah langsung mengambil jaket. "Aku ke sana sekarang."


Setibanya di rumah sakit, ia melihat Ayah terbaring lemah dengan infus di tangan. Ibu duduk di kursi pasien, wajah pucat dan mata sayu.


"Ya Allah, Ayah... Ibu..." Rahmah memeluk keduanya, air matanya tak terbendung.


Dokter menjelaskan bahwa Ayah terkena komplikasi penyakit ginjal dan darah tinggi, sementara Ibu mengalami kelelahan dan tekanan darah rendah. Keduanya butuh rawat inap beberapa hari, bahkan mungkin berminggu-minggu.


Rahmah langsung berpikir tentang biaya. BPJS memang menanggung sebagian, tapi obat tambahan, makanan, dan kebutuhan lain harus dibayar sendiri. Belum lagi biaya kuliah Arif yang jatuh tempo.



---


Malam itu, Rahmah, Fitri, dan Arif duduk di bangku panjang depan rumah sakit. Lampu jalan temaram, udara malam dingin menusuk.


"Jadi gimana, Mah?" tanya Fitri. "Aku cuma bisa bantu sedikit. Suamiku baru kehilangan pekerjaan."


Rahmah menarik napas panjang. "Aku punya tabungan darurat, tapi nggak banyak. Cuma cukup buat bayar uang muka rumah sakit sama sebagian obat."


Arif menunduk. "Kak... kalau uang kuliahku jadi masalah, aku bisa cuti kuliah dulu. Yang penting Ayah sama Ibu sembuh."


"Tidak!" Rahmah langsung menatap adiknya. "Kamu sudah hampir selesai. Cuma tinggal satu tahun lagi. Kakak nggak mau kamu berhenti."


"Tapi Kak—"


Rahmah memotong, "Kita cari jalan. Kita bertiga harus kompak."


Fitri mengangguk. "Aku bisa jual perhiasan kawin. Nggak banyak sih, tapi lumayan buat tambahan."


Arif menghela napas. "Aku juga bisa kerja paruh waktu di kafe. Malamnya, setelah kuliah."


Rahmah menatap keduanya. "Kalau begitu, kita mulai besok. Jangan ada yang nyerah."



---


Hari-hari berikutnya, Rahmah mulai bekerja lembur di toko bahan bangunan. Ia juga membuat kue basah untuk dijual di sekolah-sekolah dan warung. Setiap pukul 3 subuh, ia sudah di dapur menggoreng risol dan membuat kue lapis.


Fitri menggadaikan cincin kawin dan beberapa perhiasan kecil. Hasilnya langsung diberikan untuk membayar obat tambahan Ayah.


Sementara itu, Arif bekerja sebagai barista di sebuah kafe kecil. Pulang kuliah sore, ia langsung berangkat kerja sampai jam 11 malam.


Suatu malam, Hadi melihat istrinya duduk di meja makan dengan mata sembab.

"Kenapa, Mah?" tanyanya.


Rahmah tersenyum lemah. "Cuma capek, Bang. Banyak pesanan kue besok."


Hadi memegang tangannya. "Kamu luar biasa. Tapi jangan sampai sakit. Kita bisa lewati ini bersama."


Rahmah mengangguk, meski di hatinya ia tahu tubuhnya sudah mulai lelah.



---


Dua minggu kemudian, Ayah harus menjalani cuci darah. Biaya makin membengkak. Tabungan Rahmah hampir habis.


Suatu malam, Rahmah dan Arif duduk di kursi tunggu rumah sakit. Arif terlihat lesu.

"Kak, aku kayaknya nggak kuat kalau begini terus. Kuliah, kerja, jagain Ayah Ibu... aku takut drop."


Rahmah menatapnya. "Aku juga capek, Rif. Tapi coba lihat Ayah dan Ibu di dalam sana. Mereka sudah kerja keras membesarkan kita. Masa kita nyerah sekarang?"


Arif terdiam. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. "Baiklah, Kak. Aku bertahan."



---


Beberapa hari kemudian, Rahmah mendapat kabar dari bosnya di toko bahan bangunan.

"Mah, aku dengar orang tuamu sakit. Ini ada uang bonus. Nggak seberapa, tapi semoga membantu."


Rahmah terharu. "Terima kasih, Pak. Saya akan ingat kebaikan Bapak."


Di sisi lain, Arif mendapatkan beasiswa dari kampus karena prestasinya. Uang itu bisa menutupi biaya kuliah satu semester penuh.


"Alhamdulillah," kata Rahmah sambil memeluk adiknya. "Ini pertolongan dari Allah."



---


Setelah hampir dua bulan dirawat, Ayah dan Ibu akhirnya boleh pulang. Kondisi mereka membaik, meski harus rutin kontrol dan minum obat.


Rahmah, Fitri, dan Arif duduk di ruang tengah rumah.

"Terima kasih, Nak," kata Ayah. "Kalian sudah berjuang keras. Ayah bangga punya anak-anak seperti kalian."


Rahmah tersenyum sambil menatap kedua adiknya. "Kita saling jaga. Itu saja kuncinya."


Arif akhirnya lulus kuliah setahun kemudian dengan predikat cum laude. Saat wisuda, ia memberikan map ijazahnya pada Rahmah.

"Ini, Kak. Hasil kerja keras kita semua. Terima kasih sudah percaya sama aku."


Rahmah menatap adiknya sambil menahan tangis. "Bukan cuma aku yang percaya. Tapi Ayah, Ibu, dan Allah juga percaya kamu bisa."


Janji di Ujung Musim

 Judul: “Janji di Ujung Musim”

Karya Anggia


Pagi itu udara di desa masih diselimuti kabut tipis. Anita, siswi kelas 12 IPA SMA Negeri di kecamatan sebelah, mengayuh sepedanya melewati jalan tanah yang licin karena hujan semalam. Tasnya digendong, dan di dalamnya ada buku-buku tebal: Biologi, Fisika, Kimia—teman setianya sejak kelas 10.


Ia selalu peringkat satu. Semua guru mengenalnya sebagai anak pintar, rajin, dan sopan. Tapi tak banyak yang tahu bahwa di balik prestasinya, Anita menyimpan beban yang berat.


Di rumah, ayahnya—Badrun—sedang terbaring di kursi panjang. Rokok terselip di jarinya, mata sayu, tubuh kurus, dan batuknya sesekali terdengar. Ia sakit-sakitan, tapi bukan karena tak mampu bekerja saja; ia juga pemalas, pemabuk, penjudi, dan sudah lama terjerat narkoba.


Ibunya, Sulastri, sudah berangkat ke kebun karet sejak subuh. Menggendong ember getah, menyusuri batang-batang karet sendirian.


Ketika Anita pulang sekolah sore itu, ibunya baru saja tiba dari kebun. Tubuhnya penuh peluh, tangannya kotor oleh bekas getah.


"Assalamualaikum," sapa Anita sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam," jawab ibunya lemah. "Sudah makan, Nak?"


"Belum, Bu. Nanti sekalian makan sama Ibu." Anita melihat ke arah ayahnya yang hanya melirik sekilas, lalu kembali memejamkan mata. Bau alkohol samar tercium di ruangan.


"Ibu... Ayah lagi minum?" bisik Anita.


Sulastri menghela napas panjang. "Entahlah. Ibu sudah capek ngomel tiap hari. Kamu fokus belajar saja, ujian sebentar lagi."


Anita menunduk. "Bu, kalau Ibu capek, jangan dipendam sendiri. Anita bisa bantu nyadap karet kalau perlu."


"Tidak usah, Nak. Ibu tidak mau masa sekolahmu terganggu."


Badrun tiba-tiba membuka mata. "Kamu ini, Latri, ngomong apa sih ke anak? Jangan ngajak dia nyalahin Bapak."


Sulastri menatap tajam. "Saya nggak ngajak nyalahin. Cuma ngomong fakta. Kamu ini kerjaan cuma tidur, minum, main judi, nyabu. Mau sampai kapan?"


"Hei, jangan sembarangan ngomong!" Badrun bangkit, suaranya meninggi. "Aku sakit, Latri. Badan ini nggak kuat kerja berat."


"Sakit? Sakitnya karena ulah kamu sendiri! Uang habis buat judi, mabuk, narkoba. Karet kita cuma tinggal sedikit, itu pun aku yang nyadap!"


Anita berdiri di tengah, mencoba menenangkan. "Sudah... sudah, Bu, Pak. Tolong jangan ribut di depan Anita."


Tapi di hatinya, Anita mulai merasa takut. Ujian nasional sudah dekat, dan rumahnya seperti bom waktu yang siap meledak.



---


Beberapa minggu kemudian, suasana rumah makin panas. Suatu malam, Anita terbangun karena mendengar suara piring pecah. Ia keluar kamar, dan melihat ibunya berdiri dengan mata merah, sementara ayahnya terduduk di lantai.


"Aku nggak sanggup lagi, Bad. Besok aku mau urus cerai," suara ibunya bergetar, tapi tegas.


Badrun terdiam sejenak, lalu mencoba berdiri. "Latri, jangan. Jangan cerai. Aku janji... aku akan berubah."


"Janji? Janji yang ke berapa kali? Sudah berapa tahun aku dengar janji itu, Bad? Setiap kali kamu bilang mau berubah, ujung-ujungnya sama. Aku yang kerja sendirian, kamu habiskan uang."


Badrun terisak—entah karena benar-benar menyesal atau hanya takut kehilangan tempat tinggal. "Kali ini serius, Latri. Aku... aku nggak mau anak kita malu. Aku mau Anita lulus, kuliah, sukses."


Anita berdiri di sudut ruangan, menatap keduanya. Suara tangisnya akhirnya pecah. "Ibu, Ayah... tolong... jangan pisah sekarang. Tunggu Anita selesai ujian. Kalau nanti Ibu mau cerai, terserah, tapi sekarang... tolong."


Sulastri memejamkan mata, menarik napas dalam. "Baiklah. Aku tahan sampai anak kita lulus. Tapi kalau kamu ingkar lagi, Bad, aku nggak peduli."


Badrun mengangguk cepat, seperti orang yang baru saja mendapat napas tambahan.



---

Sejak malam itu, Badrun sedikit berubah. Ia mulai ikut ke kebun, meski sebentar saja. Paling tidak, ia tak lagi mabuk setiap hari. Anita berusaha memusatkan pikiran pada ujian nasional.


Di sekolah, ia duduk di bangku paling depan, menyimak setiap penjelasan guru. Teman-temannya sering memuji, bahkan iri karena nilainya selalu di atas.


"Anita, nanti lulus mau kuliah di mana?" tanya Rani, sahabatnya.


"Aku mau daftar ke universitas negeri di kota. Jurusan Biologi," jawab Anita mantap.


"Hebat. Semoga keterima, ya."


"Amin."


Namun di balik senyum itu, Anita tetap dihantui kecemasan: apakah keluarganya bisa tetap utuh sampai hari pengumuman kelulusan?



---

Hari itu SMA ramai. Semua siswa berkumpul di lapangan, menunggu hasil kelulusan. Wali kelas membagikan amplop.


Anita membuka amplopnya dengan tangan bergetar. Nilai sempurna. Ia dinyatakan lulus dengan peringkat pertama se-kabupaten.


Ibunya memeluknya erat. "Ibu bangga sekali sama kamu, Nak."


Badrun ikut tersenyum, meski wajahnya pucat. "Bapak janji, Nak, mulai sekarang Bapak bener-bener berubah."


Anita hanya mengangguk. Di hatinya, ia ingin percaya, tapi pengalaman mengajarkannya untuk tidak terlalu berharap.



---


Dengan nilai gemilang, Anita mendapat beasiswa kuliah di universitas negeri. Ia pindah ke kota, tinggal di kos sederhana.


Hari-harinya diisi kuliah, praktikum, dan belajar di perpustakaan. Sesekali, ia pulang ke desa.


Suatu kali, ia pulang dan mendapati ayahnya duduk di teras, tampak lebih sehat. "Nak, Bapak sekarang sudah ikut pengajian tiap minggu," katanya.


"Bagus, Pak," Anita tersenyum tipis.


Namun ibunya kemudian berbisik di dapur, "Jangan terlalu percaya. Kadang-kadang dia masih keluyuran malam."


Anita hanya bisa menghela napas. Perubahan memang tidak bisa instan.



---


Empat tahun kemudian, Anita lulus kuliah dengan predikat cum laude. Ia langsung mendaftar seleksi ASN.


Badrun dan Sulastri hadir di wisudanya. Ayahnya bahkan menangis di bangku tamu. "Nak, Bapak bangga sekali. Maafkan Bapak yang dulu-dulu," ucapnya setelah acara selesai.


Anita tersenyum. "Yang penting sekarang Bapak mau berubah. Anita cuma mau lihat Ibu dan Bapak rukun."


Beberapa bulan setelah wisuda, Anita menerima surat pengumuman: ia lolos seleksi ASN dan ditempatkan di kabupaten tempatnya dibesarkan.



---



Hari pertama bekerja, Anita mengenakan seragam cokelat dengan hati berbunga-bunga. Ia disambut rekan-rekan baru dengan ramah.


Malamnya, ia pulang ke rumah dengan sepeda motor barunya. Ibunya menyambut dengan masakan kesukaan Anita.


Badrun duduk di sudut, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Nak, Bapak nggak nyangka kamu bisa sampai di titik ini. Terima kasih sudah nggak pernah menyerah."


Anita memandang keduanya. "Semua ini untuk kita bertiga. Aku nggak mau ada lagi pertengkaran di rumah ini. Kita mulai dari awal, ya?"


Badrun mengangguk. "Bapak janji, kali ini benar-benar janji."


Sulastri hanya tersenyum, berharap janji itu bukan sekadar kata-kata.


Dan di ruang sederhana itu, Anita merasakan hangat yang sudah lama hilang—hangat yang ia doakan akan bertahan selamanya.